Oleh: yetibardian | Januari 16, 2010

KABUPATEN MINAHASA TENGGARA-PROVINSI SULAWESI UTARA-INDONESIA

1.1 DASAR PEMBENTUKKAN

Wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara dibentuk berdasarkan Undang Undang Nomor 9 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara.

1.2 POSISI GEOGRAFIS

Kabupaten Minahasa Tenggara adalah salah satu Kabupaten di antara 13 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten ini terletak diujung utara pulau sulawesi. Ibukota Kabupaten Minahasa Tenggara adalah Ratahan, berjarak sekitar 35km dari Manado, ibukota Sulawesi Utara. Kabupaten Minahasa Tenggara secara administratif telah ditetapkan dengan UU No. 9 tahun 2007. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari kabupaten induknya yaitu : Kabupaten Minahasa Selatan.

Adapun batas Wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara adalah :

· Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Amurang Timur dan Kecamatan Amurang Kabupaten Minahasa Selatan.

· Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Langoan Kabupaten Minahasa dan Laut Maluku

· Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Laut Maluku dan Kecamatan Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow;

· Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Ranoyapo dan Kecamatan Kumelembuai Kabupaten Minahasa Selatan.

Secara geografis, Kab. Minahasa Tenggara terletak antara :

1240 30’24” – 1240 56’24” BT dan 10 08’19” – 00 50’46” LU

Untuk mengetahui kedudukan geografis Kab. Minahasa Tenggara terhadap Provinsi Sulawesi Utara, dapat dilihat pada gambar 2.1 dibawah ini.

1.3 WILAYAH ADMINISTRATIF (KECAMATAN DAN DESA-DESA)

1.3.1 Pembagian Wilayah Administratif

Luas wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara adalah 710,80 Km2, yang secara administratif terbagi menjadi 6 kecamatan, 59 desa, dan 4 kelurahan. Kecamatan terluas adalah kecamatan Ratahan seluas 18,178.52 Ha (181.79 ) Km2 dan Pusomaen sebagai kecamatan yang terkecil dengan luas 7,043.65 Ha(70.44 Km2 ).

1.3.2 Iklim

(1) Curah Hujan

Dari analisis data yang diperoleh dari stasiun Klimatologi Bandara Samratulangi Manado, Propinsi Sulawesi Utara, diketahui bahwa curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 3.839.60 mm, dengan penyebaran curah hujan rata-rata bulanan 319.97 mm yaitu berkisar antara 107.32 – 604.86 mm dan jumlah hari hujan rata-rata bulanan sebanyak 19 hari hujan yaitu berkisar antara 11 – 26 hari hujan.

(2) Suhu

Dari hasil analisis dari dinas BMG menunjukkan bahwa suhu rata-rata tahunan Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara adalah 26.33 oC dengan suhu rata-rata maksimum 30.23 oC dan suhu rata-rata minimum 22.98 oC.

(3) Kelembaban Udara

Kelembaban udara merupakan salah satu komponen iklim yang berpengaruh terhadap laju evapotranspirasi dan perkembangan penyakit. Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara mempunyai kelembaban udara relatif rata-rata yaitu sebesar 82,69 % atau berkisar antara 73.76 – 87.92 %. Kelembaban udara ini cocok untuk mendukung pertumbuhan makluk hidup dan sekaligus tidak cukup basah untuk perkembangan penyakit

(4) Tekanan Udara

Tekanan udara merupakan salah satu komponen iklim yang berpengaruh terhadap laju evapotranspirasi dan arah angin. Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara mempunyai tekanan udara rata-rata yaitu sebesar 10.105,13 mb atau berkisar antara 10,100.50 – 10,112.10 mb

(5) Lama Penyinaran

Penyinaran matahari sebagai energi diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif dan pembentukkan buah. Lama penyinaran matahari berpengaruh langsung terhadap proses fotosintesa suatu tanaman. Lama penyinaran merupakan salah satu komponen iklim yang berpengaruh terhadap laju evapotranspirasi. Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara mempunyai lama penyinaran rata-rata yaitu sebesar 52.72 % atau berkisar antara 43.16 – 67.93 %. Lama penyinaran matahari yang optimum bagi pertumbuhan tanaman lebih besar 41 % atau 1800 jam per tahun.

(6) Arah Angin

Arah angin merupakan salah satu komponen iklim. Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara mempunyai arah angin ke selatan yaitu terjadi pada bulan Mei – Oktober dan kearah Timur laut pada bulan Februari – April

(7) Kecepatan Angin

Kecepatan angin merupakan salah satu komponen iklim yang berpengaruh terhadap laju evapotranspirasi. Data kecepatan angin relatif cocok untuk pertumbuhan tanaman pertanian. Kecepatan angin dapat memperbesar penguapan air dari tanaman dan tanah, disamping juga menyebabkan daun rontok dan aborsi bunga. Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara mempunyai kecepatan angin rata-rata yaitu sebesar 2.18 knot atau berkisar antara 1.54 – 4.16 knot

1.4. KONDISI FISIK DAN SUMBER DAYA ALAM

1. Topografi

Topografi sebagaian besar wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara adalah bergunung-gunung dan berbukit-bukit yang membentang dari Utara sampai ke selatan. Diantaranya terdapat beberapa gunung berapi yang masih aktif hingga sekarang, salah satu gunung yang masih aktif tersebut adalah gunung api Soputan dengan tinggi 1780 m yang terletak di antara perbatasan Kab. Minahasa Tenggara dan Minahasa Selatan serta Kab. Minahasa.

Untuk ketinggian, wilayah Minahasa Tenggara memiliki ketinggian antara 0 m (Pantai Kec. Ratatotok, Belang, Pusomaen) hingga ketinggian 1750 m (lereng G. Soputan di Kec. Ratahan dan Kec.Touluaan).

2. Lereng

Lereng wilayah Minahasa Tenggara sebagain besar adalah antara 15 – 25 % yakni sebanyak 35 % dari luas Wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara yang meliputi hampir di seluruh Kecamatan yang ada di Minahasa Tenggara. Juga lereng antara 25 – 40 % yakni sebanyak 31 % .

Untuk lereng antara 0 – 2 % yang relatif datar hanya terdapat di sepanjang pantai selatan yang meliputi Kec. Ratatotok, Belang dan Pusomaen. Juga terdapat di Sekitar daerah Ratahan di Kec. Ratahan, Molompar dan Tombatu di Kec. Tombatu . Lereng antara 0 – 2 % juga terdapat disekitar Ranoketang, Lobu dan Silian di Kecamatan Touluaan.

3. Geologi

a.Formasi Batuan

Dari Peta Geologi dan Potensi Bahan Galian Sulawesi Utara (Dep. Pertambangan dan Energi, Tahun 1995) berdasarkan formasi batuan wilayah Minahasa Tenggara terdiri dari :

· Formasi Aluvium dan endapan pantai (Qa)

· Formasi Batuan Gunung Api Muda (Tmv, Qv)

· Formasi Batuan Gunung api Bilungala (Tmbv)

· Formasi Batuan Gunung Api Pinogu (TQpv)

· Batuan Gunung api (Tmv)

· Formasi Batugamping Ratatoto (Tml)

· Formasi Endapan danau dan sungai (Qs)

· Formasi Tufa Tondano (QTv)

b. Jenis Batuan

Dari Peta Geologi dan Potensi Bahan Galian Sulawesi Utara (Dep. Pertambangan dan Energi, Tahun 1995) berdasarkan faktor Lithologi, wilayah Minahasa Tenggara terdiri dari jenis batuan: Alluvium, Basalt, Tefra, Andesit.

c.Jenis Tanah

Berdasarkan peta sistem lahan yang diambil dari peta repprott tahun 1997, jenis Tanah yang ada di Minahasa Tenggara secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 13 Jenis yakni :

Ø Dystropepts; Dystrandepts; Tropaquepts

Ø Dystropepts; Humitropepts; Tropohumults

Ø Dystropepts; Humitropepts; Tropudalfs

Ø Dystropepts; Tropudults; Troporthents

Ø Euntrandepts; Eutropepts

Ø Eutropepts

Ø Eutropepts; Dystrandept

Ø Eutropepts; Eutrandepts

Ø Humitropepts; Dystrandepts; Hydrandepts

Ø Rendolls; Eutropepts

Ø Sulfaquents; Hydraquents

Ø Tropopsamments; Tropaquents

Ø Tropudults; Dystropepts; Eutropepts

4. Geohidrologi

Kondisi geohidrologi pada Kabupaten Minahasa Tenggara terdiri atas Akuifer produktif kecil, Akuifer produktif sedang – penyebaran luas, Akuifer produktif sedang, penyeberan luas, Akuifer produktif tinggi, penyebebaran luas, Daerah airtanah langka, Setempat, Akuifer produkif, Setempat, Akuifer produktif, Setempat, akuifer produktif

5. Sumberdaya Kelautan

Pantai selatan Kab. Minahasa Tenggara bagian selatan (Kec. Ratatotok, Belang dan Pusomaen) yang menghadap Laut Maluku merupakan kawasan perikanan yang kaya. Terdapat juga 14 pulau-pulau kecil antara lain : P. Dakokayu, P. Putusputus, P. Babi, P. Hogouw (Kec. Ratatotok), P. Salimburung, P. Dohoi Besar, P. Dohoi kecil (Kec. Belang), P. Puntein dan P. Bentenan (Kec. Pusomaen).

Kabupaten Minahasa Tenggara memiliki beberapa pelabuhan perikanan dan perkampungan nelayan yakni : Ratatotok, Basaan (Kec. Ratatotok), Belang dan Malompar (Kec. Belang) dan Tumbak serta Minanga (Kec. Pusomaen).

1.5. KONDISI SOSIAL BUDAYA

1.5.1. Kondisi Kependudukan

a) Jumlah Penduduk

Pada tahun 2007 tercatat penduduk Kabupaten Minahasa Tenggara sebanyak 110.119 jiwa. Ditinjau dari rasio jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki di kabupaten Minahasa Tenggara lebih banyak daripada jumlah penduduk perempuan

b) Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk Kabupaten Minahasa Tenggara rata-rata menunjukkan angka yang sangat kecil yaitu 2 Jiwa/Ha, karena rata-rata perkotaan di Indonesia kepadatannya 200-250 Jiwa/Ha.

c) Laju Pertumbuhan Penduduk

Angka laju pertumbuhan penduduk pada kawasan perencanaan sangat penting untuk ditinjau, mengingat variabel ini nantinya akan dipakai sebagai basis dalam perhitungan proyeksi penduduk. Dalam kasus kabupaten Minahasa Tenggara, angka ini belum dapat diketahui oleh karena kabupaten ini baru terbentuk tahun 2007. Karena itu untuk tujuan proyeksi penduduk maka dipakai pendekatan angka laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Sulawesi Utara.

1.6. KONDISI EKONOMI

1.6.1 Kinerja Sektor-Sektor Ekonomi

1. Sektor pertanian

Sektor pertanian Minahasa Tenggara dapat dideskripsikan menjadi 5 (lima) sub sektor, yakni (1)sub sektor tanaman pangan, (2) sub sektor perkebunan, (3) sub sektor kehutanan, (4) sub sektor peternakan, (5) sub sektor perikanan

a) Sub sektor tanaman pangan

Sub sektor tanaman pangan mencakup padi dan palawija serta hortikultura. Padi dan palawija meliputi tanaman padi (padi sawah dan padi ladang), jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, dan kacang kedelai. Hampir semua kecamatan di Kabupaten Minahasa Tenggara memiliki potensi di sektor pertanian, terkhusus untuk sub sektor tanaman pangan padi dan palawija.

Untuk tanaman hortikultura yang terdiri dari sayur-sayuran dan buah-buahan, hampir seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara mempunyai potensi untuk dikembangkan

b) Sub sektor perkebunan

Sub sektor perkebunan yang menjadi andalan Kabupaten Minahasa Tenggara adalah tanaman kelapa, pala, kakao, kopi, dan aren

c) Sub sektor kehutanan

Kawasan hutan di Kabupaten Minahasa Tenggara dibagi berdasarkan fungsinya, yakni hutan lindung dan hutan produksi terbatas. Hutan lindung yang ada yakni Hutan Lindung Bentenan di Kecamatan Belang dengan luas area 482,50 hektar, Hutan Lindung Gunung Kawatak di Kecamatan Ratahan dengan luas area 418,00 hektar, dan Hutan Lindung Gunung Soputan di Kecamatan Tombatu dan Ratahan dengan luas area 10.650,00 hektar. Hutan produksi terbatas adalah Gunung Surat yang wilayah 3 kecamatan di Minahasa Tenggara, yakni Tombatu, Touluaan, dan Ratatotok dengan luas 24.006,00 hektar. Kawasan hutan tersebut mempunyai potensi sebagai obyek pariwisata, wilayah resapan air, dan tentu saja fungsi ekonomis dengan hasil produksinya.

d) Sub sektor peternakan

Potensi sub sektor peternakan Kabupaten Minahasa Tenggara terdiri dari ternak sapi, kuda, kambing, babi, ayam pedaging, ayam petelur, ayam buras, dan itik.

e) sub sektor perikanan

Sumber daya perikanan yang merupakan salah satu penyokong pertumbuhan ekonomi, sumber devisa dan penyedia bahan pangan protein hewani bagi masyarakat, menghadapi berbagai permasalahan, antara lain (1) kondisi nelayan yang pada umumnya miskin dan masih merupakan nelayan tradisional; (2) masih tingginya ketidakseimbangan pemanfaatan stok perikanan tangkap antarkawasan/wilayah dan antar spesies; (3) banyaknya praktik Illegal Unreported and Unregulated (IUU) Fishing yang menyebabkan kerugian negara; dan (4) pengusahaan perikanan budi daya yang masih belum efisien. Di samping itu, masalah-masalah lain yang menyertai adalah sarana dan prasarana perikanan yang belum memadai, dan input-input lain, seperti masalah benih, pakan, kesehatan ikan, dukungan permodalan, riset, dan iptek perikanan.

Sementara itu, masalah penanganan dan proses pengolahan produk-produk perikanan juga belum berkembang dengan baik, sehingga produk perikanan bermutu rendah dengan nilai jual yang rendah pula. Di pasar global, produk perikanan juga menghadapi kendala oleh adanya hambatan tarif dan nontarif, yang dikaitkan pula dengan isu-isu lingkungan dan kesehatan. Apabila permasalahan itu dapat ditangani, sumber daya kelautan dan perikanan mempunyai prospek besar untuk dikembangkan peranannya dalam mendukung pembangunan nasional

2. Sektor pariwisata

Potensi kepariwisataan di Kabupaten pemekaran ini cukup menjanjikan, kendati objek wisata Bunaken masih menjadi andalan kepariwisataan Propinsi Sulawesi Utara. Tercatat cukup banyak objek wisata yang ada di Kabupaten Minahasa Tenggara, yaitu : Teluk Buyat dengan terumbu karang buatan yang sedang dalam proses pengerjaan dengan bantuan PT. Newmont Minahasa Raya, Pantai Bantenan, Pantai Lakban, Danau Bulilin, Bukit Pengharapan serta Pasak Wanua (Batuan yang jaman dahulu digunakan sebagai pengesahan berdirinya sebuah desa).

3. Sektor Bangunan

Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara senantiasa memberi perhatian pada sektor konstruksi agar dapat mendukung pembangunan infrastruktur yang ada di Kabupaten Minahasa Tenggara terutama proyek dan program yang berhubungan dengan konstruksi seperti jalan, jembatan, gedung baik untuk usaha maupun untuk kantor dan tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten memberikan dorongan kepada para pelaku usaha di bidang konstruksi untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan peningkatan teknologi di bidang konstruksi sehingga mampu melaksanakan proyek berdasarkan profesionalisme.

Bentuk perhatian dari pemerintah Kabupaten terhadap sektor konstruksi adalah diakuinya lembaga atau asosiasi di bidang konstruksi untuk bersaing secara adil dan profesional tanpa membedakan dari organisasi mana rekanan tersebut berasal terhadap pekerjaan atau proyek yang didanai dari APBD Kabupaten Minahasa Tenggara. Pembangunan sektor konstruksi juga diarahkan untuk meningkatkan mutu hasil kegiatan sector konstruksi, seperti pembangunan jalan, jembatan, perumahan dan permukiman yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang semakin meningkat. Kualitas sektor konstruksi dapat dilihat dari meningkatnya persyaratan kualitas bangunan dari berbagai aspek, seperti persyaratan teknis bangunan, persyaratan sosial budaya, kesehatan, dan lingkungan

4. Sektor Listrik dan Air Bersih

Pembangunan kelistrikan diarahkan pada pemenuhan energi listrik yang mampu mendorong kegiatan ekonomi, pengembangan industrialiasi, meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan investasi pada sektor kelistrikan diarahkan untuk peningkatan dan pengembangan jaringan listrik baik tegangan menengah maupun jaringan tegangan rendah, penerangan jalan umum

Pemerintah Kabupaten melakukan investasi untuk penambahan jaringan listrik. Sedangkan jaringan listrik yang dikelola oleh PT PLN telah melaksanakan kegiatan investasi untuk kegiatan-kegiatan antara lain pemasangan baru jaringan listrik untuk rumah tangga, kantor, industri, dan usaha lain. Disamping itu untuk penggantian gardu transmisi, penggantian alat-alat pencatat meter, penambahan daya tersambung pada instalasi rumah tangga dan industri, dll.

Kebijakan sub sektor air bersih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga masyarakat. Untuk kebijakan ini diserahkan dan dilaksanakan sepenuhnya melalui perusahaan daerah air minum yakni PDAM. PDAM sebagai perusahaan tunggal dan monopoli yang mempunyai otoritas penyediaan air bersih bagi warga Kabupaten Minahasa Tenggara diharapkan melakukan terobosan baru menggandeng investor. Untuk membangun instalasi baru sumber-sumber air bersih yang bertujuan untuk menambah kapasitas debit air bersih yang pada gilirannya akan dapat memenuhi kebutuhan air bersih yang semakin meningkat.

5. Kondisi Kapasitas Fiskal Daerah

Kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam APBD 2008 Kabupaten Minahasa Tenggara, digambarkan pada tabel berikut ini :

Tabel 1.1

KONTRIBUSI PAD & DANA PERIMBANGAN TERHADAP APBD 2008

KABUPATEN MINAHASA TENGGARA

Jenis Pendapatan Daerah Jumlah (Rp) Proporsi (%)
PAD 1.500.000.000 1
Dana Perimbangan 178.388.166.287 99
Lain-lain 48.713.800 0
Total Pendapatan Daerah 179.936.880.087 100

Sumber : Bagian Keuangan Setdakab Minahasa Tenggara, 2008

Dari tabel diatas tampak bahwa ketergantungan Kabupaten Minahasa Tenggara terhadap sumbangan dana pembangunan dari pemerintah pusat masih sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat dari ratio antara besarnya PAD terhadap total Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hanya menunjukkan angka 1 persen. Hal ini bisa dipahami, mengingat kabupaten ini sebagai daerah pemekaran baru, perolehan PAD umumnya relatif rendah. Realisasi perolehan Pendapatan Asli Daerah oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)dapat dilihat pada tabel berikut dimana sebagian besar SKPD di Minahasa Tenggara masih belum maksimal. Bahkan ada beberapa SKPD realisasi PAD-nya masih dalam keadaan nol. Hal ini perlu mendapat perhatian mengingat indikator positifnya pertumbuhan ekonomi daerah pemekaran adalah adanya peningkatan PAD. Dalam era otonomi daerah saat ini, setiap daerah dituntut untuk melakukan kegiatan pembangunan secara mandiri. Dalam melaksanakan kegiatan pembangunan, daerah membutuhkan sumber dana pembangunan, oleh karena itu setiap daerah harus mampu mengoptimalkan sumber pendapatan daerahnya masing-masing, terutama pendapatan asli daerah.

6. Sektor PDRB Minahasa Tenggara

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, salah satu tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan pembangunan yang dilakukan oleh daerah adalah dengan melihat pertumbuhan PDRB. Melalui PDRB dapat diketahui pertumbuhan masing-masing sektor perekonomian, kontribusi masing sektor-sektor, serta struktur perekonomian daerah dan PDRB per kapita.

Sektor-sektor atau lapangan usaha yang membentuk struktur PDRB adalah:

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perkebunan, dan Perikanan

2. Pertambangan dan Penggalian

3. Industri Pengolahan

4. Listrik, Gas, dan Air Bersih

5. Bangunan

6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran

7. Pengangkutan dan Komunikasi

8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan

9. Jasa-jasa

Berdasarkan perhitungan nilai PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000, nilai PDRB Provinsi Sulawesi Utara di tahun 2006 adalah sebesar Rp 13,53 triliun rupiah. Secara sektoral struktur ekonomi Provinsi Sulawesi Utara di tahun 2006 ini didominasi oleh sektor pertanian dengan peranan sebesar 21,49% diikuti sektor Jasa-jasa sebesar 16,04%; sektor bangunan 15,68% sektor perdagangan, hotel, dan restoran 14,80%; sektor pengangkutan komunikasi sebesar 11,66%; sektor industri pengolahan 7,71%; serta sektor keuangan,persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 6,60%. Untuk sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik, gas, dan air bersih peranannya terhadap perekonomian Sulawesi Utara masih di bawah 6%, yakni masing-masing 5,26% dan 0,75%.

Dengan membandingkan struktur PDRB 3 kabupaten tersebut dan juga PDRB provinsi serta analisis proyeksi PDRB Kabupaten Minahasa Selatan sebagai kabupaten induk dapat diproyeksikan PDRB Kabupaten Minahasa Tenggara adalah sebagai berikut :

Tabel 1.2

Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Minahasa Tenggara

Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007

Lapangan Usaha 2007 Proporsi (%)
Pertanian 330.477.998.915 31
Pertambangan 31.981.741.830 3
Industri Pengolahan 149.248.128.542 14
Listrik, Gas, dan Air Bersih 10.660.580.610 1
Bangunan 234.532.773.423 22
Perdagangan, Hotel, dan Restoran 106.605.806.102 10
Angkutan dan Komunikasi 63.963.483.661 6
Keuangan, Sewa, dan Jasa Perusahaan 31.981.741.830 3
Jasa-jasa 127.926.967.322 12
Total PDRB 1.066.058.061.015 100

Sumber : Hasil Analisis Konsultan, 2008

Pangsa sektor ekonomi dalam PDRB Kabupaten Minahasa Tenggara atas dasar harga berlaku tahun 2007 menunjukkan bahwa sektor pertanian masih sangat dominan. Pangsa sektor pertanian atas dasar harga berlaku tahun 2007 mencapai Rp 330.477.998.915; atau sekitar 31% dari total PDRB yang besarnya mencapai Rp 1.066.058.061.015;. Penyumbang terbesar lainnya adalah sektor bangunan sebesar Rp 234.532.773.423; atau 22%, industri pengolahan sebesar Rp 149.248.128.542; atau 14%, dan jasa-jasa sebesar Rp 127.926.967.322; atau 12%. Pangsa selebihnya berasal dari sektor ekonomi lainnya.

Sumber: Studi Bantuan Teknis Pelaksanaan Penataan Ruang Kabupaten Minahasa Tenggara Provinsi Sulawesi Utara tahun 2007, PT. Rekaspasia Indonesia.
Penulis adalah Team Leader dari Studi ini.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: